Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2012

CITA-CITA. "Apa cita-citaku?"

Setiap manusia pasti memiliki impian dan cita-cita yang digenggam erat di kedua tangannya. Tak kan membiarkannya lepas atau menguap bersama udara. Impian dan cita-cita itu seperti jantung yang senantiasa berdetak memompa darah semangat ke setiap detail tubuh manusia. Membangunkan manusisa dalam lelapdan membuat mereka berlari untuk mengejarnya. Tetapi bukan hal yang mudah untuk menggenggam impian dan cita-cita itu di genggaman tangan. Ada kalanya angin bertiup membawa serbuk-serbuk duka ketika bunga-bunga kehidupan bermekaran. Ada kalanya hujan lebat menumbangkan raga yang telah berdiri tegak menentang badai ketidak pastian. Ada kalanya pula ombak mengikis karang semangat yang sebelumnya gagah berdiri melawan buih. Ya. Tak semudah itu menggenggam impian dan cita-cita agar tetap berada di genggaman. Menggenggamnya tak semudah menggenggam pasir pantai yang halus dan padat. Tetapi menggenggap impian dan cita-cita ibarat menggenggam seciduk air. Kita tak kan bisa menggenggamnya. Tidak tidak. Bukan tak bisa. Ada cara untuk melakukannya jika kita tahu bagaimana cara tersebut. Apabila kita mendenotasikan kalimat tersebut dengan benar-benar mengambil seciduk air lalu menggenggamnya, tentu hal tersebut merupakan suatu kemustahilan. Tapi bagaimana jika kita melakukan sesuatu pada seciduk air itu terlebih dahulu? Yaitu dengan membekukannya. Bisakah kita menggenggamnya setelah itu? Ya. Setelah air didinginkan dalam suhu minus, maka ia akan berubah menjadi bongkahan es. Air yang telah bermetamorfosis menjadi bongkahan es akan dapat kita genggam. Begitu pula dengan impian dan cita-cita. Apabila kita hanya memiliki sketsa atau gambaran mengenai impian dan cita-cita atau dapat dikatakan sebagai bahan mentah tanpa ada realisasi yang nyata untuk dapat meraihnya, maka sulit sekali untuk meraih impian dan cita-cita itu di genggaman kita yang dapat kita ibaratkan seperti mustahilnya menggenggam seciduk air. Lalu apa yang harus kita lakukan? Seperti air yang bermetamorfosis menjadi bongkahan es. Air perlu di masukkan ke dalam cetakan atau kantung plastik. Mengikatnya dengan kencang agar tidak tumpah. Mendinginkannya hingga suhu minus yang dapat mematikan syaraf. Air harus melalui serangkaian tahap dan tempaan hingga menjadi es batu. Dan itulah yang harus kita lakukan pada impian dan cita-cita kita. Tempa impian dan cita-cita itu agar mudah untuk kita genggam. Memang bukan suatu hal yang mudah. Proses itu membutuhkan banyak pengorbanan dan keringat. Tapi percayalah, setiap tetes keringat yang kita keluarkan hari ini akan berbuah manis di masa depan.
Seperti yang aku katakan tadi, aku pun memiliki impian dan cita-cita yang selama ini berdenyut bersama nadiku. Satu irama bersama detak jantungku. Hanya saja aku masih ragu-ragu dengan impian dan cita-citaku ini. Sebenarnya karena aku merasa kurang memiliki kemampuan untuk dapat menggenggam dan meraih impian serta cita-cita itu dalam genggamanku. Sejauh ini, aku merasa kurang optimal dalam menempa diriku sendiri untuk dapat meraih apa yang aku inginkan di masa depan. Lagi-lagi karena ragu-ragu. Sepertinya aku memiliki penyakit ragu-ragu yang kronis. Selalu ragu-ragu dalam menentukan sesuatu. Hff. Nah, ini dia list cita-cita dan bagaimana aku menempa diriku untuk dapat menggenggam dan meraih impian itu dalam genggamanku-yang beberapa hari lalu aku buat. 

No.
WHO WILL I BE
WAY TO REACH
1
PENULIS
*      Mulai menulis dari HARI INI
*      Buat cerpen (1 minggu min. 1 karya)
*      Kirim ke koran
*      Buat puisi (2 hari sekali)
*      Nulis diary (setiap hari)

Final achievement :
BUAT NOVEL
2
No other plan
-
3
No other plan
-
4
No other plan
-
5
No other plan
-
6
No other plan
-
7
No other plan
-

See? Kasihan sekali aku yang hingga saat ini masih kesulitan dalam merumuskan impian dan cita-cita untuk masa depanku. Apa yang dapat kusimpulkan dari masalahku ini adalah bahwa kesulitan tersebut merupakan  buah dari ketidak maksimalan aku untuk mengenal diriku lebih dalam. Lalu, apa yang harus kulakukan untuk lebih mengenal diriku sendiri?
Apa yang harus kulakukan untuk lebih mengenal diriku sendiri adalah :
1.  Membuat list mengenai sifat-sifatku (sifat baik dan buruk)
2.  Membuat list mengenai apa yang aku suka dan tidak
3.  Membuat list mengenai apa yang ingin kucapai di masa depan dan cara meraihnya
     (rencana jangka panjang)
4.  Membuat list mengenai apa yang ingin aku capai dalam waktu-waktu dekat ini (recana jangka pendek)
5.  Membuat list mengenai hal-hal yang membuat prestasi belajarku menurun dan cara mengatasinya
6.  Membaca ulang list-list yang telah dibuat dan mengevaluasi diri sendiri

Untuk dapat mencapai impian dan cita-cita demi masa depan yang cerah, ayo semangat! Aku pasti bisa! :)

 ** GANBATTE KUDASAI **


Rabu, 02 November 2011

Sei..

 
 
 
maafkan aku tak bisa memahami maksud amarahmu
membaca dan mengerti isi hatimu
ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian
mencoba mencari celah dalam hatimu
aku tahu ku takkan bisa
menjadi seperti yang engkau minta
namun selama nafas berhembus aku kan mencoba
menjadi seperti yang kau minta

ampuni aku yang telah memasuki kehidupan kalian
mencoba mencari celah dalam hatimu

aku tahu ku takkan bisa
menjadi seperti yang engkau minta
namun selama nafas berhembus aku kan mencoba
menjadi seperti yang kau minta

dan aku tahu dia yang bisa
menjadi seperti yang engkau minta
namun selama aku bernyawa aku kan mencoba
menjadi seperti yang kau minta

oooh namun selama ku bernyawa
ku coba seperti yang kau minta

seperti yang kau minta
namun selama nafas berhembus aku kan mencoba
ooh menjadi seperti yang kau minta
namun selama aku bernyawa ku kan mencoba
menjadi seperti yang kau minta
ku kan mencoba menjadi seperti yang kau minta



Semoga aku mempunyai kesempatan bersamamu lagi, Sei..

Rabu, 26 Oktober 2011

Sei lagi..


Aku baru saja melewati ulang tahunku yang ke-17. Aku nggak nyangka, secepat itu aku tumbuh dewasa.  Rasanya baru kemarin aku masuk SD. Kata orang, ulang tahun yang ke-17 itu identik dengan ulang tahun yang indah dimana kita ditemani oleh orang spesial atau pacar di samping kita. Tapi aku berpikir, kenapa gitu?  Bagiku punya pacar atau pun tidak tidak begitu penting (untuk saat ini). Aku sudah punya teman-teman yang baik, sahabat yang percaya kepadaku, serta orang-orang yang sayang padaku. Itu saja sudah kurasa sudah cukup.
Ada satu hal yang membuat ulang tahunku yang ke-17 ini terasa agak aneh dan-ok, akan kuceritakan sedikit. Lima malam sebelum tanggal 22 Oktober, nggak tau kenapa aku kepikiran Sei terus. Tiap aku dengerin Vanilla Twilight, di dalam hati aku berdoa semoga aku bisa bertemu dengan Sei sebelum atau saat ulang tahunku nanti. Setidaknya sebentar saja karena rasanya sudah lama sekali (kira-kira 7 bulan) aku tidak bertemu dengannya.  Terakhir kali aku bertemu Sei ya ketika aku bertemu dia dengan Natsu dulu sebelum dia berangkat ke Surabaya. Di dalam hati aku berdoa agar Sei ingat bahwa sebentar lagi adalah hari ulang tahunku. Menyedihkan ya.
Sampai hari itu datang.  Tanggal 22 Oktober siang, satu pesan masuk ke ponselku. Waktu itu aku lagi di lab biologi. "rrrt.. rrrt.." ponsel di sakuku bergetar. Dengan malas kubuka pesan yang masuk, dan..
Hai, aku lagu pulang ke Tuban :)
Nanti jam pulang sekolah aku mau ke SMA 1 buat sharring ma anak kelas 3 :)
(11.34)

kau tau? Saat itu juga tanganku terasa dingin, kakiku gemetaran, jantungku berdetak di atas normal. DOAKU TERKABUL!! Sei datang.Tak banyak yang berubah dari Sei. Ia masih tampak mengagumkan bagiku. Dengan T-shirt putih yang dipasangkan dengan kemeja biru serta celana jeans pendek dia duduk di gazebo sekolah sambil memberikan penjelasan kepada kakak-kakak kelas XII. Kemudian sebelum ia pulang, ia ke lab komputer. Entah untuk bertemu denganku atau apa. Sei berubah. Sei yang sekarang dingin sekali. Tapi kemudian aku sadar. Sei bukan Sei lagi. Ia bukan Sei. Tapi ia adalah dirinya yang sebelumnya memang tidak kukenal.  Dan saat itu juga aku berkata dalam hatiku, "Mungkin lebih baik kita tidak bertemu lagi. Walaupun di dalam hatiku aku terus berharap kau ada di sampingku suatu saat."

Sabtu, 15 Oktober 2011

SONG

VANILLA TWILIGHT

The stars lean down to kiss you
And I lie awake I miss you
Pour me a heavy dose of atmosphere
Cause I’ll doze off safe and soundly
But I’ll miss your arms around me
I’ll send a postcard to you dear
Cause I wish you were here
I watch the night turn light blue,
But it’s not the same without you
Because it takes two to whisper quietly
The silence isn’t so bad
Till I look at my hands and feel sad
Cause the spaces between my fingers
Are right where yours fit perfectly
I’ll find repose in new ways
Though I haven’t slept in two days
Cause cold nostalgia chills me to the bone
But drenched in Vanilla twilight
I’ll sit on the front porch all night
Waist deep in thought because when I think of you
I don’t feel so alone
I don’t feel so alone
I don’t feel so alone
As many times as I blink I’ll think of you… tonight
I’ll think of you tonight
When violet eyes get brighter
And heavy wings grow lighter
I’ll taste the sky and feel alive again
And I’ll forget the world that I knew
But I swear I won’t forget you
Oh if my voice could reach back through the past
I’d whisper in your ear
Oh darling I wish you were here

Aku suka banget sama lagu ini. Sebenernya lagu ini lagu favoritnya temenku, tapi waktu aku dengerin, ternyata enak juga. Dalam sehari aku bisa dengerin lagu ini 6 sampai 10 kali di laptop, hahaha.  Ya ya, lagu ini ngingetin aku sama temenku itu, juga sama temenku yang lain.  Nah, buat yang suka mau dengerin, selamat mendengarkan :)

Senin, 10 Oktober 2011

Puisi untuk Sei

How Do I Love Thee?
by Elizabeth Barrett Browning (1806-1861)

How do I love thee? Let me count the ways.
I love thee to the depth and breadth and height,
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of being and ideal grace..

I love thee to the level of every day's
Most quiet need, by sun and candle-light.
I love thee freely, as men strive for right.
I love thee purely, as they turn from praise.
I love thee with the passion put to use
In my old griefs, and with my childhood's faith.
I love thee with a love I seemed to lose
With my lost saints. I love thee with the breath,
smiles, tears, of all my life; and, if God choose,
I shall but love thee better after death.

Ini puisi yang pernah kukirim buat Sei, nggak terlalu nyambung, sih. Tapi aku nggak tau kenapa aku suka banget sama puisi karya Elizabeth ini. Pertama kali aku tau puisi ini, aku baca di satu novel yang kupinjem di perpus umum.  Waktu itu aku yang lagi sedikit melankolis nggak sengaja baca kalimat awalnya, "How do I love thee?". Karena  penasaran ya udah aku baca. Tapi sayang, puisi ini nggak ditulis secara lengkap sama si pengarang novel karena cuma sebagai kutipan. Akhirnya, kukirim sepotong puisi yang belum selesai itu ke Sei. Dan Sei ngelanjutin puisi yang belum selesai. Aku tanya, "kok bisa tau lanjutannya?" aku bertanya heran. Kemudian Sei menjawab sambil tertawa, "hahaha, dodol dodol dodol, browsing di mbah Google, dong. Tinggal tulis aja kalimat pertamanya, How do I love thee?" Yah. Aku tau. Itu MEMALUKAN SANGAT. Rasanya aku pengen masukin kepalaku ke dalem karung semen >.<
Dan setiap aku baca puisi ini, bayangan Sei lagi-lagi datang berkelebatan di kepalaku. Kenapa semuanya harus Sei? Padahal ia sudah sama sekali tak memedulikanku. Tapi bagaimanapun, puisi ini tetep jadi puisi terbagus yang pernah kubaca.

Sabtu, 08 Oktober 2011

For My Dearest Friend. "For Alex san.."

Kalau..
 Kalau aku jahat
Aku harap kau tahu bahwa itu tak pernah untukmu


     Berapa banyak menit yang pernah aku dan kau lewati dengan tawa, kata-kata ejekan, dan hal-hal bodoh? Berapa banyak hari yang pernah kita habiskan dengan persaingan dan pertengkaran? Ya. Sebanyak pasir di laut dan bintang di langit. Kau tahu, jika aku mengingat semua itu rasanya bodoh sekalo, haha. Tapi semua itu adalah kenangan manis yang akan selalu kuingat  sampai aku tua nanti.
    Kau tahu tidak? Hari ini ibumu bertemu dengan ibuku. Ibumu bercerita kepada ibuku tentang pertengkaranmu dengan ****** beberapa waktu lalu. Kata Ibumu, dia meludahimu. Menurutku dia itu keterlaluan sekali. Kau yang biasanya tak pernah membalas jika disakiti orang kali ini kau membalasnya. Awalnya kau bingung, kenapa kau yang pemaaf tiba-tiba meledak. Itu adalah hal yang mengejutkan untukku. Sekarang aku paham kenapa kau bertindak tidak seperti biasanya.
Ngomong-ngomong, makin lama kau itu makin tidak bisa aku pahami. Kadang kau terlihat seperti orang yang tak tahu apapun dengan tampang polosmu yang sangat menjengkelkan itu. Padahal sebenarnya kau telah mengetahui sesuatu yang semua orang kira tak tahu. Kadang kau terlihat seperti orang yang benar-benar paham dengan masalah dan keadaan di sekitarmu, ditambah wajah "sok tau"mu yang membuatku down jika melihatnya. Tapi nyatanya kau tak tahu apapun dan semua orang mengira kau tahu. Kau itu aneh.
Alex san. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Selama ini aku tak berani mengatakannya karena rasanya  hal ini memalukan sekali untuk dikatakan, apalagi jika aku harus mengatakannya langsung di depanmu. Hm, kau tahu tidak, kau itu satu-satunya orang yang tidak bisa kubaca dan tidak bisa kumengerti. Jika aku bisa membaca Kira lewat matanya, dan Sei lewat kebiasaannya, atau seperti kebanayakan orang lainnya yang sangat mudah terbaca dengan sekali meihat saja, maka tidak dengan kau. Berapa tahun, sih, aku berteman denganmu? Bertahun-tahun, kan? Tapi itu masih tidak membuatku mengerti dan paham tentang kau. Aku tidak mengerti mengapa kau bisa begitu sulitterbaca. Apa mungkin kau juga bisa membaca seseorang? Apa mungkin kau juga bisa memasuki jalan pikiran seseorang? Atau karena aku kurang mengenalmu? Kenapa aku tak bisa membacamu? o.0
     Hei. Kenapa, sih, kau berubah? Apa kau tak ingin berteman denganku lagi? Apa aku melakukan kesalahan yang membuatmu semakin menjauh? Apa aku sebegitu tidak bergunanya sampai-sampai kau tak mau lagi membalas semua pesanku? Aku kangen sekali padamu. Aku ingin mengerjakan tugas bersama seperti yang  dulu biasa kita lakukan. Aku ingin bertengkar denganmu walau pun terkadang itu membuatku menangis. Aku ingin kau menjadi kakakku. Ya, aku ingin kau menjadi kakakku. Kakak yang bisa menjadi tempatku berlindung dan berbagi semua hal. Kakak yang selalu menjadi panutanku ketika aku kehilangan arah. Dan aku pun ingin selalu membantumu. Menenangkanmu ketika kau dilanda kebimbangan. Membuatmu merasa lebih baik ketika kau mendapatkan kesulitan. Aku ingin terus melihat senyummu, marahmu, sedihmu, juga semua hal yang sering kulihat dari dirimu. Karena kau adalah salah satu pemain dalam siklus kehidupanku. Dan jika kau menghilang, maka akan ada sesuatu yang berubah dan kosong. Semoga waktu dapat diputar sehingga aku bisa dekat lagi denganmu dan bisa menghabiskan banyak waktu bersama-sama >.<

Your Friend..
AKIRA

Jumat, 07 Oktober 2011

Apa Kabar, Sei?

Halo, Sei..
Apa kabarmu di sana? Apa kau baik-baik saja? Apa kau sedang sibuk? Apa kau sedang kesal? Sedih? Marah? Apa kau sudah makan? Apa kau lelah? Bagaimana kuliahmu sekarang? Apa ada yang membencimu? Adakah seseorang yang kau suka disana? Apa kau masih suka pada Natsu? Atau kau menemukan yang baru? Apa kau masih ingat padaku? 
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang selalu mengganggu malam-malamku. Semua itu berkelebat dalam pikiranku, berdesing-desing membentur dinding kesadaran. Seperti hantu yang menari-nari pada malam yang kian menua. Aku ingin mendapatkan jawabannya darimu. Tapi aku terlalu takut untuk menghadapi kenyataan jika ternyata kau bukan seperti yang kukenal dulu. Aku takut mendapati jika memang benar kau telah menemukan Natsu. Aku takut jika mendapati memang benar bahwa kau benar-benar menyukainya. Dan aku BENAR-BENAR TAKUT mendapati bahwa aku bukan siapa-siapa lagi untukmu. Ya. Aku memang seorang penakut yang bersembunyi di balik selimut sambil sesekali mengintip melalui celah-celahnya. Haha, bodoh sekali, kan? Tapi inilah aku. Inilah aku yang ditinggalkan waktu. Yang melangkah satu demi satu dengan langkah gontai, terseok-seok. Inilah aku yang belum mampu menatap dunia dengan mata terbuka.

My Dearest, Sei..
Kemarin aku menangis lagi. Kenapa Tuhan hanya memberiku sedikit  untuk berada di sisimu? Kenapa begitu? Padahal masih banyak hal yang ingin kulakukan bersamamu. Kenapa begitu, Sei?
Satu hal yang saat ini kusadari bahwa kita tak mungkin bertemu lagi karena hanya tinggal menghitung tahun dan kau akan benar-benar pergi.  Hanya jika ada sedikit keberuntungan aku bisa melihatmu lagi. Jika saat itu memang ada, aku rasa kita sudah berevolusi menjadi kita yang baru. Kau berubah. Begitupun aku. Dan apabila Tuhan memberiku kesempatan untuk  bersamamu lagi, jika Tuhan menuliskan akhir di mana kau dan aku akan memulai awal yang baru nantinya, dengan senang aku akan berkata, "selamat datang kembali, Sei". Namun jika kenyataannya berbalik, maka saat itu aku akan menemukan seseorang yang dapat menjagaku dengan lebih baik. Dan saat itu juga kenangan tentangmu akan menjadi sepenggal cerita yang akan kusimpan di dalam kotak di sudut hatiku.



WORLD OF CHANCES
by Demi Lovato

You’ve got a face for a smile, you know
A shame you waste it
When you’re breaking me slowly but I’ve
Got a world of chances, for you
I’ve got a world of chances, for you
I’ve got a world of chances
Chances that you’re burning through
I’ve got a paper and pen
I go to write a goodbye
And thats when I know I’ve
Got a world of chances, for you
I’ve got a world of chances, for you
I’ve got a world of chances
Chances that you’re burning through
Oh
I’m going my own way
My faith has lost its strength again
And oh, It’s been too hard to say
We’re falling off the edge again
We’re at the end
We’re at the end
Maybe you’ll call me someday
Here the operator say the numbers no good
And that she had
A world of chances, for you
She had a world of chances, for you
She had a world of chances
Chances you were burning through
Chances you were burning through
Chances you were burning through
Oh
You’ve got a face for a smile, you know


Yours :
- Ai -